Rabu, 14 Oktober 2009

Demam Panggung Menghantui

Pelatih Persijap Junaidi mengkhawatirkan ’’virus’’ demam panggung yang sering muncul saat tim mengawali kompetisi. Dia berharap anak-anak asuhannya bisa terhindar dari persoalan itu



saat menjamu Pelita Jaya di Gelora Bumi Kartini, Rabu lusa, pada penampilan pertamanya dalam rangkaian Indonesia Super League (ISL) 2009-2010. ’’Kami berharap tim memiliki motivasi besar untuk bertanding dengan lepas,’’ ujarnya, kemarin.

Keinginan besar untuk menang di kandang menjadi hal lumrah. Apalagi publik tentu akan mengukur kesiapan tim ini dari laga pertama kompetisi. Evaldo dkk secara teknis masih belum optimal saat uji coba melawan dua kontestan Divisi Utama, Persiku dan Pro Duta.

Mereka menundukkan Persiku 1-0 dan unggul 2-1 atas Pro Duta di kandang. Junaidi mencatat masih labilnya psikis tim saat bertemu ’’Macan Muria’’, dan kurang primanya stamina sebagian besar pemain ketika meladeni Pro Duta.
’’Kesalahan dalam bermain tak perlu disikapi dengan emosi, karena akan memengaruhi performa. Jika ini menimpa tim, maka strategi sulit berjalan,’’ katanya mengevaluasi hasil laga menghadapi tim Kudus.
Kreasi Hilang Melawan Pro Duta, untuk kali pertama Persijap melakukan serangan bergelombang sejak tim terbentuk. Namun itu hanya terjadi sekitar 30 menit babak pertama. Selebihnya para pemain tengah dan striker sulit menembus pertahanan lawan, bahkan kehilangan kreasi setelah di babak kedua tenaganya terkuras. ’’Sepekan ini kami berupaya meningktkan stamina pemain. Kami berharap sebelum pertandingan semuanya siap,’’ imbuh Junaidi.

Pelita Jaya yang masih diasuh pelatih asal Singapura Fandi Ahmad diperkuat sebagian besar pemain musim lalu seperti M Ridwan, Firman Utina dan striker kelahiran Pati, Rudi Widodo.

’’Mesin’’ mereka lebih dulu panas karena semalam sudah menjalani laga perdana menghadapi Persela di Stadion Surajaya, Lamongan, pada laga perdana mereka musim ini.

Manajer Edy Sujatmiko bakal berbicara di depan seluruh pemain pada Selasa besok untuk menyuntikkan motivasi. Manajamen ingin meyakinkan bahwa tim berada dalam kondisi siap berkompetisi untuk mencapai hasil terbaik. Edy kemungkinan besar masih mendampingi ’’Laskar Kalinyamat’’ pada laga menghadapi Pelita Jaya Rabu lusa dan Persitara Jakarta Utara tiga hari kemudian.

Selanjutnya dia akan menunaikan ibadah haji, sehingga tim akan diserahkan kepada pesonel manajemen lainnya.

Keraguan di Laga Perdana

MENJELANG - laga perdana di kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 melawan Pelita Jaya, skuad baru asuhan Junaidi diliputi rasa keraguan. Rasa ragu ini juga diungkapkan



Persijapmania, yang merasa cukup ngeri skuad keluaran edisi musim ini.

Bagaimana tidak, menghadapi kompetisi super ketat di negeri ini, persiapan skuad merah-merah kurang dari dua bula, ditambah lagi 50 persen pemain pilar pergi atau hijrah ke tim lain karena tidak cocok dengan harga kontrak ataupun memang manajemen tim kalah cepat bergerak dengan tim lainnya.

Berbagai persoalan dicoba dipecahkan Sang Arsitek Junaidi , terutama mengenai poisisi playmaker yang musim lalu ditempati jugador dari Brasil Amarildo Souza. Musim ini, Bang Jun berharap banyak dengan gocekan-gocekan ala Brasil lainnya yang dimiliki Sergio Junior yang diambil dari Deltras Sidoharjo.

Dari hasil uji coba dengan tim lokal dan kontestan Divisi Utama Pro Duta, kontribusi Junior belum sebagus koleganya Souza. Menurut Bang Jun, Junior belum bisa mengatur tempo permainan yang diinginkan, hanya saja bola satu dua sentuhan yang diinginkan pelatih berusia 45 tahun itu bisa terpaparkan dengan baik.

Kerja samanya dengan Nurul Huda atau Bona Simanjuntak atau Pablo Frances cukup merepotkan berisan pertahanan lawan."Ada kelebihan dan kekurangan dari Junior," ujarnya.

Bantu Serangan

Junaidi mengakui, pasukannya harus kerja keras meraih poin penuh di kandang lawan Pelita.

"Mereka tim bagus, kuat di semua lini, tidak ada persoalan kesolidan tim yang justru menjadi persoalan di tim kita. Saya berharap banyak dengan peran Junior yang bisa memerankan seperti Souza," ungkap pelatih asal Banjarmasin, selasa (13/10) di mes sesuai latihan.

Formulasi apa untuk meredam kecepatan barisan penggempu anak-anak asuh Fandi Ahmad? Dengan 3-5-2, posisi belakang masih di percayakan II Capitano Evaldo Silva.

Hanya saja pasangannya musim ini sedikit berbeda dengan musim sebelumnya. Evaldo dimungkinkan akan di temani Ferly La'ala dan pemain lama tapi baru di Laskar Kalinyamat, Kasiyadi. Lini tengah tercatat ada dua perubahan yang cukup signifikan dikembangkan BJ.

Donny Siregar akan didorong lebih membantu serangan, sedangkan gelandang bertahan ditempati Bona Simanjuntak - yang cukup lihai mnemerankan peran itu. Sebab di tim lamanya, posisi Bona sama denga yang di Persijap.

sedangkan Junior diharapkan menjadi playmaker sekaligus bisa menyumbangkan gol dari lini kedua dan kedua sayap tentu saja disiapkan Isdiantono dan Nurul Huda. Umpan-umpan silang yang cukup berbahaya dari kiri maupun kanan bisa memasok bagi duet striker Pablo bersama Noorhadi "Emen".

Cobaan

"Ini cobaan di liga perdana yang harus kami lalui dengan semangat dan kebersamaan. Selama ini, kolektivitas menjadi peran utama kesuksesan tim. Di laga lawan Pelita, kunci ini tetap menjadi prioritas untuk menguasai permainan. Dukungan Persijapmania sangat kami harapkan," tambah BJ.

Di lain pihak, M Ridwan dan kawan-kawan dalam dalam kondisi full team kendati menelan hasil negatif di laga pertamanya dengan kekalahan 1-2 dari Persela, tampaknya tidak menyurutkan perjuangan mereka.

Fandi Ahmad rencananya akan mengusung 4-4-2 dengan menempatkan Supardi, Johan Ibo, Kery Yudiyono, Carlos Bizzaro. Lini tengah, Jusmadi, Ardan Aras, M Ridwan, dan Gilang atau Agustiyar Batubara, sedangkan dua bomber siap mengancam gawang Persijap yang dikawal Danang Wihatmoko yakni Khusnul Yakin dan I Made Wirahadi.

Sedikit catatan, untuk I Made Wirahadi merupakan pemain yang menjebol gawang Persijap dengan dua gol pada musim lalu, saat dia masih berbaju Persita Tangerang.

Dengan sedikit keraguan ini, diharapkan skema permainan yang diusung anak-anak Kota Ukir bisa meredam semua serangan. Persijap memang masih menyisakan luabang di semua lini, tapi mengutip perkataan Donny Siregar, di lapngan semuanya bisa terjadi dan bola itu bundar.

Sementara pemain Pelita, Khusnul Yakin, bertekad mencuri poin dengan minimal seri.

"Syukur kalau bisa menang, dengan skor berapa pun," tuturnya saat coba lapangan, kemarin sore.(86).

Evaldo cs Minta Dukungan

JEPARA - Peran suporter di semua sisi tribune Stadion Gelora Bumi Kartini amat penting untuk memompa semngat tim.

Karena itu Kapten Tim Persijap Evaldo Silva berharap besar suporter memberi dukungan penuh dalam laga perdana di ajang Indonesia Super League Persijap menjamu Pelita Jaya, sore ini.

"Seperti musim lalu, tim sangat terbantu dengan penonton yang mendukung. Kami membutuhkan dukungan lagi," katanya, usai latihan di Gelora Bumi Kartini, kemarin.

Evaldo mengatakan laga pertama kompetisi memiliki daya tarik tersendiri. Ia dasar fans berat Persijap amat menghendaki tim pujaannya menang. Harapan fans itu sama dengan yang diinginkannya, namun ia mengatakan titik temu harapan itu ada di dukungan suporter.

"Kami ingin itu pasti. Kami ingin bermain bagus dan menang, tapi banyak pekerjaan yang harus kami lakukan. Dukungan suporter juga penting sekali," imbuhnya.

Laga menjamu Pelita Jaya ini adalah salah satu dari tiga partai kandang Persijap di ISL yang tidak di siarkan langsung oleh televisi, di antara sembilan laga kandang putaran pertama. Karena itu penonton di perkirakan akan memenuhi stadion seperti laga -laga perdana musim lalu menjamu Persik Kediri.

Sebelum kompetisi bergulir banyak pecinta Persijap yang masih mencemaskan kekuatan tim kebanggaannya dalam menjalani kompetisi ini, karena manajemen tidak belanja pemain mahal akibat keterbatasan dana. Meski begitu Evaldo mengatakan, kekuatan tim tidak bisa diukur semata dengan beberapa besar anggaran yang dibelanjakan untuk membeli pemain namun lebih pada semangat dan kerja kolektif semua unsur di tim.

"Sejak lima musim di Persijap, kami selalu bertanding atas nama tim, bukan satu dua nama saja, " jelasnya.

Koordinasi Korwil

Aroma dukungan prakompetisi ini juga tak semeriah musim lalu. Setidaknya itu terlihat dari dua laga uji coba terakhir Evaldo cs. Dua kelompok suporter Jetman dan Banaspati tak hadir dengan atribut di stadion.

Namun kemarin dua kelompok suporter itu menyatakan akan memberi dukungan penuh pada laga Persijap menjamu Pelita Jaya."Kami pasti datang dan memberi dukungan penuh," kata H Saadi, punggawa Banaspati.

Hal serupa dikatakan Abdussomad Sofari, ketua umum Jetman."Kami sudah berkoordinasi dengan semua korwil untuk memberi dukungan total kepada tim besok," ujarnya.Jetman, kata dia sudah memperbaharui seluruh peralatan bunyi-bunyian untuk mendukung tim. " Kami datang dengan semangat baru pula," lanjut dia yang baru-baru ini terpilih sebagai ketua umum Jetman, menggatikan Aris Isnandar yang kini menjadi anggota legislatif.

Ketua Panpel Persijap Sutedjo menjelaskan, begi kalangan pecinta Persijap yang akan membeli tiket penonton pertandingan sore ini, panpel sudah akan melayaninya mulai pukul 10.00 di kompleks stadion hari ini. (H15-86)


Sejarah Persijap

Sebelum berkiprah dalam kancah persepakbolaan nasional seperti sekarang ini, persijap telah mengarungi perjalanan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Dengan kata lain sepakbola di Jepara mempunyai catatan sejarah yang cukup panjang.

Pada paruh waktu sekitar tahun 1930-an, di Jepara lahir dua klub sepakbola bentukan Belanda. Yaitu Y.V.C. (Yapara Voedbal Club) dan Alsides. Dengan demikian cikal bakal sepak bola di Jepara sudah berakar sejak penjajahan Belanda. Sepak bola di Jepara pada kurun waktu itu dalam waktu singkat sudah bisa menjadi olah raga rakyat. Di setiap pelosok desa sepak bola sudah dimainkan. Namun setelah Belanda kalah dan bangsa Indonesia di jajah Jepang, dua klub tersebut akhirnya bubar.

Tetapi terbukti kemudian, sebagai olah raga rakyat, sepak bola terus berkembang. Melihat perkembangan sepakbola di Jepara, Bupati Jepara waktu itu, Syahlan Ridwan (1954) berkeinginan membentuk sebuah kesebelasan milik Kabupaten Jepara. Ide ini dilandasi dengan semakin banyaknya klub-klub yang tumbuh. Tahun itu kemudian dicatat sebagai tahun berdirinya Persijap Jepara, tepatnya pada tanggal 11 April 1954.


Seiring dengan perjalanan serta kiprah persijap di jagat persepakbolaan nasional, juga memunculkan beberapa nama yang menjadi populer, bahkan melegenda. Diantaranya adalah Kamal Junaidi, yang meninggal karena tersambar petir, dalam laga final Piala Makutarama yang digelar di Salatiga pada tanggal 28 Agustus 1973 melawan kesebalasan dari Persipa Pati. Nama Kamal Junaidi kemudian diabadikan sebagai nama stadion sepak bola, yang menjadi kebanggan warga masyarakat Jepara.

Beberapa pemain sepakbola dari Jepara juga pernah memperkuat timnas. Diantaranya adalah Haryanto yang menjadi kiper andalan timnas pada tahun 1979. Setelahnya juga ada nama Siswadi Gancis yang menjadi kiper PSSI Garuda pada tahun 80-an. Generasi setelahnya pada tahun 2000-an juga ada nama Solekan, dan Warsidi.

Sehingga tidak berlebihan kalau Jepara, yang nota bene merupakan kota kecil, menjadi barometer sepak bola di Jawa Tengah. Bahkan dalam perkembangannya sekarang, bisa melampaui PSIS Semarang dan Persis Solo, yang mempunyai nama lebih besar dan dana yang juga lebih besar. Hal ini terkait dengan keberhasilan Persijap berhasil lolos ke Liga Super PSSI 2008. Sedangkan kedua tim lainnya dari Jawa Tengah tersebut tetap bertahan di Divisi Utama

Home base Persijap terletak di Jl. Mangunsarkoro Jepara, sedangkan home ground-nya akan menempati stadion yang baru, yaitu Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK). Stadion GBK menjadi stadion yang baru bagi Persijap, karena stadion Kamal Junaidi tidak lagi memenuhi syarat untuk dipakai bertanding dalam ajang Superliga tahun 2008.

Kapasitas stadion (GBK) mempunyai daya tampung sekitar 20.000 penonton, dengan kapasitas tribun tertutup sebanyak 7000 orang dan tribun terbuka 13.000 orang penonton. Hampir setiap kali pertandingan home (kandang), stadion di Jepara dipenuhi oleh penonton/supporter setia Persijap.Sementara ini supporter Persijap yang berjumlah sekitar 10.000 orang terbagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Jetman (Jepara Tifosi Mania) dan Banaspati.

Stadion GBK terletak di Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara, sekitar 1 km dari Kantor Bupati Jepara. Stadion GBK dibangun sejak tahun 2001. Luas kawasan atau kompleks stadion ini 159.800 m2 dengan luas stadion 30.000 m2., dan luas lapangan 7.500m2. Stadion ini nantinya dilengkapi dengan track untuk lintasan atletik dengan panjang 500m2 dengan lebar 6 m. Fasiltas lain yang melengkapi stadion GBK adalah tribun terbuka dan tribun VIP yang bertatap space frame.

Jenis rumput yang digunakan di lapangan utama stadion GBK adalah bermuda (dactylon cycnodon). Fasilitas stadion nantinya akan semakin representatif dengan dilengkapinya sarana dan fasilitas stadion berupa ruang ganti pemain, ruang ganti wasit serta ruang untuk peliputan dan konferensi pers. Fasiltas berupa kamar mandi – shower dan toilet diharapkan bisa membuat pengguna stadion ini bertambah nyaman.

3 Oktober Lembaran Baru Persijap

Catatan episode pertama tim laskar kalinyamat dalam perjalanannya mjelakoni  perannya di ISL edisi perdana telah ter-archive. Tampil trengginas di putaran pertama, terseok-seok di putaran kedua, namun mampu bertahan di ISL dan kado istimewa menembuh 4 besar Copa Indonesia 2008/2009 adalah catatan penting dalam kemajuan sepakbola Jepara.
Persijap melangkah kembali menapaki sengitnya persaingan di liga super jilid kedua yang di gadang-gadang oleh Liga Indonesia(PT) lebih profesional daripada musim sebelumnya. Tapi memang jika melihat manuver para kontestan lain di liga super bisa dipastikan mereka semua telah siap sedia untuk terjun ke lapangan hijau, bisa dibilang Persijap ‘telat’ dalam hal ini. Perekrutan pemain menjadi hal yang paling kentara dibandingkan dengan klub lainnya, penyebabnya adalah masalah klasik kondisi keuangan tim yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi musim lalu yang membuat para pemain yang ‘tidak sabar’ memilih hengkang. Sebut saja pemain asli Jepara Anam syahrul yang memilih Persiba Balikpapan, Aji Nurpijal yang kembali ke Persib, Enjang Rochiman, serta Ilham Hasan yang mengundurkan diri saat seleksi telah dimulai. Eksodus para pemain Persijap memaksakan manajemen bekerja keras untuk melakukan seleksi pemain baru, sejak awal puasa Persijap telah kedatangan beberapa pelamar yang ingin bergabung bersama tim laskar kalinyamat di musim 2009/2010. Komunikasi terus dilakukan dengan pelatih Junaedi (BJ) untuk perekrutan pemain baru, rekomendasi dari pelatih akan ditindaklanjuti dengan kesesuaian kemampuan dana yang dimiliki Persijap. Musim ini ada beberapa pemain baru yang berstatus pemain lama persijap, yakni Danan Puspito serta Bachtiar yang musim lalu membela Persija Jakarta, juga ada Kasiyadi yang sebelumnya membela Persisam samarinda, ketiganya merepukan mantan pemain Persijap 2007.
Selain mantan pemain persijap yang ‘kembali pulang’ ke jepara, amunisi baru telah siap membela Persijap di musim kedua liga super Indonesia ini, pemain asing asal Brasil Sergio Junior telah berbaju merah-merah yang telah berdiri sejak 1954 tersebut. Junior mungkin tak asing di mata Bang Jun ataupun para pemain persijap musim lalu, dia ikut menggelontorkan bola ke gawang Danang wihatmoko kala membela Deltras Sidoarjo saat semifinal Copa Indonesia yang membuat Persijap gagal meraih posisi terbaik ketiga. Para pemain baru tersebut akan menjadi satu kesatuan dan kekuatan baru persijap bergabung bersama pemain-pemain yang loyal ke Persijap, Johan Juansyah, Doni FS, Isdianto, Nurul huda, Danang wihatmoko, Noorhadi, Catur Rintang, Chanip M, dan dua pemain hebat top skorer copa Indonesia Pablo Francess dan legenda hidup Persijap Evaldo Silva De Assis yang telah 6 musim membela Persijap.
Secara ceremonial laskar kalinyamat akan me-launching tim pada tanggal 3 Oktober, Sabtu nanti di Stadion bersejarah Kamal Junaidi Jepara. Diharapkan Persijap khususnya para pemain pada perjalanannya nanti dapat menorehkan prestasi yang lebih baik dan semua organ di tubuh Persijap dapat berjalan selaras bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik untuk Persijap dan nama baik kota kecil Jepara tercinta ini. Kami mohon untuk para supporter setia laskar kalinyamat, Jetman, banaspati, Persijap Online Suporter (POS, facebook,tweeter) untuk selalu mendukung dan lebih dewasa. Menyikapi kemenangan dengan sekedar senyuman dan menyikapi kekalahan dengan legowo (semoga jangan sampai kalah,red). Karena kedewasaan sikap supporter, pemain, manajemen adalah sebuah kesatuan keharmonisan dan menjadi kunci kemajuan TIM, beri kepercayaan kepada kami untuk berbuat semaksimal mungkin dan mempersembahkan yang terbaik untuk masyarakat Jepara. admin

Gol Pertama dalam Delapan Tahun

JEPARA - SAYAP kiri Isdiantono mendapat ucapan selamat dari sesama pemain, tim pelatih, maupun ofisial Persijap lainnya.

Ucapan itu didapat berkat golnya ke gawang Pelita Jaya pada menit ke-69 dalam laga perdana ”Laskar Kalinyamat” pada Djarum Indonesia Super League (ISL) di Gelora Bumi Kartini, Jepara, kemarin.

Itu merupakan gol tunggal dalam laga tersebut, Gol itu juga terasa istimewa karena menjadi ”pelepas dahaga”, setelah delapan tahun tak pernah mencetak gol.

”Mencetak gol saat kompetisi seperti ini menjadi momentum sangat spesial,” ujarnya.
”Berkat kerja sama tim, saya berhasil mencetak gol. Padahal, sudah delapan tahun saya tak bisa melakukannya,” ujarnya.

Bersama Deltras

Pemain berusia 30 tahun itu mengungkapkan, kali terakhir mencetak gol dilakukan pada musim 2001 ketika masih bersama Deltras Sidoarjo. Karenanya, dia merayakan gol dengan penuh sukacita.

Setelah bekerja sama satu-dua dengan Nurul Huda, Pablo Frances, dan Sergio Junior, Isdiantono melewati bek Pelita Jaya Supardi untuk menaklukkan kiper Dian Agus Prasetyo.

”Rasanya sulit menembus gawang lawan. Tapi, kami dan rekan-rekan memiliki semangat dan tidak putus asa,” lanjut pria kelahiran Banyuwangi itu.
Dia mengakui timnya tampil kurang optimal pada laga perdana.

Namun, dalam pertandingan resmi seperti itu, tim bersykur bisa meraih kemenangan.

Gol tunggal tersebut dinilai penting tidak hanya pada laga tersebut, karena juga menjadi penyemangat untuk laga-laga berikutnya. ”Kami sadar ada yang meragukan kemampuan tim pada awal kompetisi.

Tapi setelah kompetisi berjalan, kami berharap semuanya memberikan dukungan seperti hari ini,” ujarnya.
”Kami optimistis bisa bersaing,” imbuh pria yang menggemari dunia fotografi ini. (H15,J4,kar-22,SM)

Permainan Persijap Belum Berkembang

Jepara - Asisten Pelatih Persijap, Anjar Jambore Widodo mengakui, permainan Evaldo Silva dan kawan-kawan saat menghadapi Pelita Jaya Purwakarta pada laga perdana Kompetisi Sepak Bola Liga Super di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara, Rabu petang, belum berkembang dengan baik.
"Dari sisi hasil memang memuaskan karena bisa menang atas lawannya (Persijap menang 1-0 atas Pelita Jaya), tetapi dari sisi permainan tim kami masih perlu melakukan pembenahan sehingga pada pertandingan berikutnya bisa lebih baik dari sekarang ini," katanya usai pertandingan kedua tim di Jepara, Rabu petang.

Anjar Jambore Widodo yang juga mantan pemain Persijap Jepara tersebut, mengakui, pada pertandingan ini anak-anak tampil penuh beban karena turun di hadapan pendukungnya sendiri sehingga tekanan harus memenangkan pertaningan ini sangat besar, "Dari sisi mental bertanding anak-anak tampil penuh tekanan," katanya menegaskan.

Kemudian, lanjut dia, dari karakter permainan Persijap sebenarnya memang belum terlihat dalam pertandingan ini. "Karakter Persijap yang tampil cepat dengan umpan-umpan pendek kemudian panjang belum terlihat saat menjamu tim asuhan pelatih Fandi Ahmad tersebut," katanya.

Ia menjelaskan, dari sisi komunikasi antarlini terlihat masih kurang sehingga beberapa kali terjadi dua pemain gelandang berdiri pada posisi yang terlalu dekat. "Kita lihat saja posisi Doni Siregar, Bona Simanjuntak, dan Sergio Junior terlalu dekat sehingga sering terjadi salah pengertian di antara mereka, kemudian mereka juga tidak bisa tampil dengan leluasa," katanya.

Terlepas dari kendala-kendala yang ada pada pertandingan ini, menurut dia, yang terpenting saat ini adalah timnya bisa meraih angka penuh pada pertandingan pertama karena ini merupakan modal yang berharga untuk menyongsong pertandingan selanjutnya.

Sementara itu pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad mengatakan, sebenarnya pada pertandingan ini Pelita Jaya tidak harus kalah dari Persijap karena dari sisi peluang timnya lebih banyak dibandingkan tuan rumah.

"Kita bisa mencetak dua hingga tiga gol pada pertandingan ini tetapi sayang peluang yang ada tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pemain," kata mantan pesepak bola Niac Mitra Surabaya tersebut.

Ia menyebutkan, coba saja Johan Ibo dan M. Ridwan tinggal berhadapan dengan kiper Persijap Jepara tetapi tidak bisa menyelesaikan peluang tersebut. "Saya melihat ini karena minimnya pemain, coba bayangka empat pemain depan kita tidak bisa turun karena cedera dan persyaratan administrasi terutama dua pemain asing yang belum beres," katanya.

Tetapi, lanjut dia, penampilan anak-anak pada pertandingan ini bagus dan hanya kurang beruntung sehingga peluang untuk mencetak gol tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh M. Ridwan dan kawan-kawan.

Usai menjamu Pelita Jaya, tim berjuluk Laskar Kalinyamat (Persijap Jepara) kembali akan menjamu Persitara Jakarta Utara pada pertandingan lanjutan di tempat yang sama, Sabtu (17/10). (s-antarajateng)